Munir (61) saat mengamati kondisi tanaman padi miliknya yang rusak akibat wabah hama wereng di Desa Kilasah, Kasemen, Kota Serang, Minggu (20/9/2026). (Foto: Pribadi)

KOTA SERANG – Serangan hama wereng mulai mengubah musim panen petani di Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, menjadi periode penuh ketidakpastian. Tanaman padi yang sebelumnya tumbuh normal mulai rusak ketika memasuki masa pertumbuhan, Minggu (20/9/2026). Di tengah kondisi itu, sejumlah petani mengaku belum mendapat bantuan maupun penanganan langsung dari pemerintah.

Bagi petani, persoalannya bukan hanya tanaman yang rusak. Serangan wereng ikut memangkas hasil panen dan mengganggu pola tanam yang selama ini menjadi sumber penghasilan.

Munir (61), petani di Desa Kilasah, mengatakan serangan wereng mulai muncul ketika tanaman padi memasuki fase pertumbuhan. Pada awal masa tanam, menurut dia, belum terlihat gangguan berarti. Namun ketika tanaman mulai berkembang, wereng mulai menyerang.

“Dulu, waktu awal proses menanam padi, hamanya belum ada. Tapi pas tanaman padi sudah mulai tumbuh dan mendekati masa perkembangan, hama wereng itu mulai datang menyerang,” kata Munir.

Serangan tersebut, kata Munir, membuat jadwal panen tidak lagi berjalan seperti biasanya. Dalam kondisi normal, petani dapat memanen hingga dua kali dalam setahun. Namun serangan wereng membuat waktu panen menjadi terlambat dan tidak menentu.

Dampaknya langsung terasa pada produksi, kata dia. Munir mengatakan hasil panen yang biasanya mencapai sekitar 3 ton dalam satu kali panen kini turun menjadi sekitar 1,5 ton.

“Kalau sudah kena hama wereng ini memang susah ditolong, kami sudah tidak bisa buat apa-apa lagi,” ujarnya.

Keluhan lain datang petani bernama Yusa (32). Ia menilai wereng berbeda dengan hama tikus yang menurutnya relatif lebih mudah dikendalikan. Wereng, kata dia, memiliki daya rusak yang cepat dan penyebarannya dapat meluas dalam waktu singkat.

“Misalkan hari ini wereng baru merusak satu meter lahan sawah, besoknya serangan itu sudah meluas sampai lima meter,” ungkap Yusa.

Serangan itu juga berdampak pada hasil panen. Yusa mengatakan dalam kondisi normal ia dapat memperoleh hingga 4,5 ton. Setelah serangan wereng, hasilnya turun menjadi sekitar 2,5 ton.

Di tengah penurunan produksi tersebut, petani mengaku belum menerima bantuan pemerintah. Yusa mengatakan hingga saat ini belum ada petugas pemerintah yang datang langsung ke lokasi sawah untuk menangani serangan wereng.

Menurut Yusa, dalam program bantuan sebelumnya, perwakilan kelompok tani biasanya dipanggil untuk menerima obat pembasmi hama. Namun dalam kasus serangan wereng kali ini, ia mengaku tidak mendapat panggilan maupun penyaluran bantuan.

Masalah tidak berhenti pada ketiadaan bantuan. Upaya membeli obat secara mandiri di pasaran juga belum memberikan hasil yang diharapkan.

“Kalaupun dicoba beli obat sendiri di pasaran, racun yang ada sepertinya tidak mempan untuk membasmi wereng ini,” katanya.

Keluhan petani tersebut menunjukkan bahwa persoalan serangan wereng bukan semata-mata soal keberadaan hama. Ada persoalan lain yang ikut menentukan efektivitas penanganan, mulai dari kecepatan respons hingga pendampingan petani di lapangan.

Kondisi tanaman padi di Desa Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, mengering setelah terserang wabah hama wereng batang cokelat, Minggu (20/9/2026).

Kepala Advokasi Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Muhammad Raihan mengatakan pemerintah daerah memiliki Program Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan atau Gerdal OPT dan Posko Perlindungan Tanaman.

Namun, menurut Raihan, terdapat persoalan pada alur koordinasi dan birokrasi dalam pelaksanaan program tersebut. Ia mengatakan pemerintah cenderung menunggu laporan administratif dari kelompok tani sebelum melakukan penanganan.

“Pemerintah cenderung reaktif, menunggu laporan administratif formal dari kelompok tani. Padahal pergerakan hama tidak menunggu berkas laporan selesai diketik,” kata Raihan.

Raihan juga menanggapi keluhan petani mengenai obat yang dinilai tidak efektif. Menurut dia, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan resistensi hama akibat penggunaan pestisida kimia tanpa pendampingan.

Ia mengatakan petani membutuhkan pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan atau POPT. Pendampingan tersebut mencakup edukasi mengenai dosis pestisida dan teknik Pengendalian Hama Terpadu atau PHT.

“Petani tidak boleh dibiarkan membeli racun sendiri di pasaran tanpa edukasi dosis dan teknik Pengendalian Hama Terpadu,” ujar Raihan.

Menurut Raihan, kerugian petani akibat serangan hama juga dapat berkaitan dengan risiko alih fungsi lahan. Ia mengatakan petani yang terus mengalami kerugian dan merasa dibiarkan sendiri oleh pemerintah dapat semakin terdesak untuk menjual sawahnya kepada pengembang.

Raihan meminta Dinas Pertanian Kota Serang segera melakukan penanganan terhadap wilayah yang terdampak serangan wereng.

“Kami mendesak Dinas Pertanian Kota Serang untuk segera melakukan jemput bola, menerjunkan tim POPT ke titik-titik terdampak, serta menyalurkan bantuan pestisida gratis secara transparan dan tepat sasaran tanpa hambatan birokrasi,” kata Raihan.

Sementara itu, Akademisi Fakultas Pertanian Untirta, Andree Syailendra menjelaskan jenis wereng cokelat memiliki beberapa biotipe, mulai dari biotipe 1 hingga biotipe 4. Berdasarkan penelitian Fakultas Pertanian UNTIRTA sejak 2014, serangan wereng di Banten, menurut Andree, telah masuk kategori biotipe 4.

Namun, Andree belum dapat memastikan biotipe wereng yang menyerang tanaman padi di Desa Kilasah. Ia juga belum mengetahui varietas padi yang digunakan petani di wilayah tersebut.

Menurut Andree, varietas padi yang dirilis dalam 10 tahun terakhir umumnya memiliki ketahanan terhadap biotipe 1 dan cenderung agak tahan terhadap biotipe 2 dan 3. Sementara varietas seperti Inpari 32, Inpari 42, dan Mekongga, kata dia, rentan terhadap wereng batang cokelat biotipe 4.

“Kalau petani menanam varietas seperti Inpari 32, Inpari 42, atau Mekongga, tanaman tersebut rentan terserang wereng cokelat biotipe 4 ini,” jelasnya.

Andree mengatakan pola penyebaran wereng di Banten memiliki kecenderungan bergerak dari wilayah Pantai Utara atau Pantura menuju Tirtayasa, Sawah Luhur, Anyer, kemudian masuk ke Kabupaten Lebak dan berakhir di Kabupaten Pandeglang. Namun, ia menegaskan jenis biotipe yang menyerang di setiap wilayah perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum menentukan langkah perlindungan.

“Untuk melakukan langkah perlindungan, kita harus memastikan terlebih dahulu biotipe wereng yang menyerang di lokasi tersebut,” ujarnya.

Secara teknis, Andree menjelaskan wereng batang cokelat merupakan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang memiliki tingkat kerusakan cepat. Hama tersebut mengisap cairan batang padi hingga tanaman menguning dan mengering. Kondisi itu dikenal sebagai hopperburn.

Ia mengatakan serangan dapat meluas dengan cepat apabila tidak segera ditangani secara tepat. Wereng batang cokelat juga dapat berpindah dengan cepat karena memiliki sayap dan dapat terbawa angin.

Menurut Andree, kondisi tersebut dapat menjelaskan penurunan hasil panen yang dialami petani. Ia menyebut hasil panen dapat turun sekitar 40 hingga 50 persen pada kondisi serangan tertentu. Dalam kondisi parah, satu batang padi bahkan dapat dihinggapi hingga 50 ekor wereng cokelat.

“Padahal secara ambang kendali, keberadaan satu ekor wereng cokelat dalam satu rumpun padi saja sebenarnya sudah berbahaya,” katanya.

Untuk pengendalian, Andree menyebut pergantian varietas padi secara berkala sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan petani. Ia juga menekankan pentingnya keserentakan waktu tanam karena penanaman yang tidak serentak dapat memperluas peluang penyebaran hama.

“Jika pola tanam dilakukan secara serentak, kita minimal bisa memblokir sebaran hama di titik tertentu,” ujarnya.

Menurut Andree, teknik pengendalian selanjutnya dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan melalui BPHPT Kasemen. Ia juga mengingatkan pentingnya pembinaan petani melalui program pengendalian hama.

Andree mengatakan pemerintah pusat pernah menjalankan Program Sekolah Lapang sekitar 2015 atau 2016 yang dilaksanakan setiap enam bulan. Dalam program tersebut, Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) berkumpul bersama petani untuk memberikan pembelajaran mengenai teknik pengendalian hama.

“Saya dulu sering terlibat. Dalam program itu, Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) berkumpul bersama seluruh petani untuk mengajarkan teknik-teknik pengendalian hama,” tuturnya.

Meski demikian, Andree mengatakan belum mengetahui apakah program pembinaan serupa masih berjalan saat ini. “untuk sekarang saya belum mengetahui,” imbuhnya.